Selasa, 15 Januari 2019

Historical Sites of Jakarta



Kertas : mattpaper
halaman: 384 (full-colour)
ukuran : 24 x 30 cm
harga  : (hard-cover) Rp 440.000,-     (soft-cover) Rp 360.000,-
A. Heuken adalah seorang yang menampilkan wajah lain Jakarta melalui bukunya yang berjudul Historical Sites of Jakarta. Dalam buku ukuran 24 x 30cm, setebal 384 halaman itu, ia mengajak kita menjelajahi kembali masa lampau kota yang pernah dijuluki ‘Ratu dari Timur’ ini, melalui bangunan-bangunan kuno yang sampai sekarang masih ada; baik yang sudah dipugar, dijadikan museum, maupun yang dibiarkan merana dimakan usia.
Buku Adolf Heuken ini juga mengajak kita beralih sejenak. Dari pesona gedung-gedung megah, ke peninggalan masa lampau – seperti wisma-wisma tuan tanah, masjid, gereja, kelenteng kuno, dengan latar-belakang aneka ragam.
Sekian banyak bangsa, suku, agama, budaya, memang sudah ikut menyumbang dalam pembentukan Kota Jakarta. Bertemunya aneka unsur itu kita lihat dalam pelbagai ‘keajaiban’. Antaranya tugu prasasti Hindu yang pernah dikeramatkan penduduk. Kumpulan arca Hindu yang dipuja dalam klenteng Tionghoa. Gereja Belanda yang diperuntukkan umat Protestan Portugis. Atau klenteng dengan keramat ‘Islam’ di dalamnya.
Buku klasik tentang tempat-tempat bersejarah di Jakarta ini berisi banyak gambar dan peta kuno berwarna. Setiap orang yang ingin mengenal ibukota RI sewajarnya memilik buku ini. Sudah terbit tujuh kali.

Jakarta, once the ‘Queen City of the East’, changes very fast. More and more building and objects of its past disappear in our time. But there is still much more to be seen than most people, even long time residents, are aware of. There are old mansions, colonial fortification, churches, mosques and Chinese temples with a colourful cosmopolitan background. Many races, nearly all great religions of our world, and most different cultures have contributed to the development of Jakarta. For centuries this city has been the centre of a web of sea-based trading posts scattered between Cape Town in South Africa and Surat in North India to the islet of Deshima in Japan. Textiles and indigo from India were traded for Indonesian spices, these in turn bought Chinese tea, silks and porcelains which were exchanged for the silver and copper of Japan. From Europe silver and gold coins were used to buy at very cheap prices all goods of the East in order to sell them in Amsterdam for big profits.
Besides being the centre of vast trading emporium, Jakarta developed more and more into the main city of the Indonesian archipelago.
This book leads the reader to what still remains of this colourful past in present-day Jakarta, which today as the capital of modern Indonesia again occupies a central position.
Daftar isi:
I Where it All Started
  • Sunda Kalapa
  • Jayakarta n Lookout Tower
  • Maritime Museum
  • The Warehouses of the VOC
  • Last Remnants of the City Wall of Batavia
  • The Old Shipyard
II The Jakarta History Museum
  • The Old City Hall of Batavia
III Within the Old City of Batavia
  • Wayang Museum
  • Museum of Fine Arts and Ceramics
  • Si Jagur Cannon
  • Toko Merah
IV Around the Church of the ‘Black Portuguese’
  • The Oldest Church in Jakarta
  • The Mardijkers
  • Pieter Erberveld Lost His Life and Property
  • How Pieter Erberveld Lost His Property and Life
V Tugu: History through Fifteen Centuries
  • Prehistory
  • Hindu Memorial Stone
  • The Church of Tugu and its Congregation
  • Portuguese Music and Traditions
  • Marunda: Robbers or Heroes?
VI The Former National ­Archives Building
  • The Mansion of Reinier de Klerk
  • Slaves in Batavia
VII Old Mosques
  • Jatinegara Kaum
  • Mosques of Arab, Indian, and Chinese ­Muslims
  • Mosques near the Old City
VIII Chinese Temples and Tombs
  • The Tomb of Bencon
  • Old Chinese Temples in Glodok, Ancol, and Jl. Lautze
  • Gong Goan
  • Residences of Rich Chinese Merchants
IX Lapangan Banteng and its Surroundings
  • Weltevreden
  • ‘White House’ on Lapangan Banteng
  • Gedung Kesenian
  • Gedung Pancasila
  • Classicism in Jakarta
  • Indische Woonhuis
X Historical Sites around Merdeka Square
  • Immanuel Church
  • Presidential Palaces
  • National Museum
  • Former Harmonie
XI Tombs that Tell History
  • Taman Prasasti or the Old Cemetery of Tanah Abang
  • ­Tomb­stones in the Garden of the Anglican Church
XIICOUNTRY HOUSES and former Residences of Big Estate Owners outside the Old City
  • Cililitan
  • Pondok Gede
  • Tanjung-Timur
  • Pondok Cina
  • Cimanggis
  • Ciseeng
  • The House of Raden Saleh in Cikini
  • Gedung Tinggi, Grogol
XIII Quiet Islands with a Busy History
  • Onrust Island and its Archaeological Garden
  • The Old Fort on Kelor Island
  • The Martello Tower of Bidadari Island
  • The Lighthouse and a Mysterious Tomb on Edam Island
  • Some Major Events in the History of Jakarta (up to 1880)




Buku dapat anda pesan langsung di:

Yayasan Cipta Loka Caraka
Jl. Prof. Moh. Yamin 37
Jakarta Pusat 10310
(-2 (021)31924856


HP - WA: 0812-8313-749


Tempat-tempat bersejarah di Jakarta


Edisi ke-8 yang direvisi dan diperluas
Full-colour, 458 halaman
Ukuran 18,5 x 25cm
harga Soft-cover Rp 260.000,-     hard-cover Rp 360.000,-


Jakarta  salah satu kota di dunia yang berkembang ­paling cepat,  ibukota negara yang tertua di seluruh Asia Tenggara, yang pernah menjadi bandar pusat seluruh jaringan perniagaan di antara Capetown (Afrika Selatan) dan ­Nagasaki (Jepang). Sampai sekarang ini Jakarta  ­masih  menawarkan banyak tempat bersejarah, asal diketahui latar-belakangnya. Buku ini menyajikan kete­rangan lengkap tentang berbagai gedung, monumen, gereja, mesjid, klenteng, istana, kampung-kampung di Batavia dan sekitarnya, yang pernah main peran dalam perkembangan sejarah kota ini.
   Banyak gedung berse­jarah lenyap satu per satu, namun demikian, kita masih dapat melihat lebih banyak daripada disangka penduduk DKI. Asal serta latarbelakang tempat-tempat dari masa Jakarta disebut Koningin van het Oosten disajikan. Buku klasik ini menuntun pembaca ke tempat bersejarah masa dahulu dengan me­nyajikan peristiwa-peristiwa yang menggembirakan dan menyedihkan, yakni hidup nyata penduduk kota ini dari abad ke-17 sampai ke-19.


Senin, 14 Januari 2019

Atlas sejarah Jakarta - Historical Atlas of Jakarta


Hard-cover, full-colour, 
144 halaman, matt paper 150gr
Ukuran 23 x 31 cm,
harga Rp 220.000,-
Inilah atlas sejarah suatu kota yang pertama terbit di Asia Tenggara! Dengan banyak peta dan gambar berwarna perkembangan kota Jakarta diperlihatkan dari masa Biara Hindu di Tugu (abad ke-5) melalui Sunda Kelapa (abad ke-15), Jayakarta (abad ke-16). Batavia (1619-1942) dan Jakarta (1945-2000).
Segala peristiwa penting dengan gerak-gerik mereka yang ikutserta diberi peta khusus, a.l. pertempuran di Meester (1809), usaha cup d’etat (1965) dan peristiwa Trisakti dengan pembakaran luas (1998) .
Demikian pula penyediaan air, perkembangan sistem kereta api dan trem, lapangan terbang Cililitan (1934) sampai Bandara Cengkareng (1985), tempat rawan seperti Senen dengan ‘daerah’ berbagai geng dari Cobra (1950) sampai Hercules di Tanah Abang. Setiap orang yang ingin mengenal seluk-beluk Jakarta perlu akan atlas ini, yang sangat cocok untuk sekolah dan perguruan tinggi. Tiada duanya!


Buku dapat anda pesan langsung di:

Yayasan Cipta Loka Caraka
Jl. Prof. Moh. Yamin 37
Jakarta Pusat 10310
(-2 (021)31924856

200 Tahun Gereja Katolik di Jakarta




halaman: 352
ukuran : 21,5 x 28 cm
harga : Rp 225.000,-
Buku ‘200 Tahun Gereja Katolik di Jakarta (1807-2007) menguraikan perkemabangan Umat Katolik di wilayah, yang sekarang membentuk Keuskupan Agung Jakarta. Umat yang terpaksa hidup di bawah tanah selama masa VOC diberi perhatian khusus. – Uraian disertai banyak gambar, peta dan grafik yang berwarna; 352 halaman dan peta pertama (45 x 100 cm) semua paroki di Jakarta, Bekasi dan Tangerang.’/The book ‘200 Tahun Gereja Katolik di Jakarta, 2007 describes the development of the Catholic community in the area that now forms the Archdiocese of Jakarta. Catholics had to pray together underground during the time of the VOC. Description is made easier by illustrations, maps and grafics in full colour. 352 pages and the first map of all parishes in Jakarta, Bekasi and Tangerang (45 x 100 cm).

Buku dapat anda pesan langsung di:

Yayasan Cipta Loka Caraka
Jl. Prof. Moh. Yamin 37
Jakarta Pusat 10310
(-2 (021)31924856

Selasa, 19 Juli 2016

Menteng – ‘Kota taman’ pertama di Indonesia



halaman: 136
ukuran : 18 x 25 cm
harga  : Rp 75.000,-
Ilustrasi sampul: Gedung Kunstkring (1913) pada entré Gondangdia waktu belum dirusak tangan jahil (1999). – Bawah: Tosariweg (1937) kini Jl. Kusumaatmaja; suatu vila luks di Jl. Diponegoro; interior residensi seorang duta besar di Jl. Diponegoro; jendela gaya Art Deco pada pintu masuk suatu rumah di Jl. Kusumaatmaja; Gereja Teresia (1934) dan gedung BAPPENAS (1926)
Kami tinggal di Menteng sejak akhir tahun 1960-an: Pada waktu itu jalan-jalan utama pun banyak lobang, lampu jalanan sebagian rusak. Jl. Cokroaminoto belum ramai, karena berakhir di Kali Banjir dan Bioskop Menteng termasuk bioskop kelas satu di Jakarta. Kavaleri bermarkas di Jl. Gereja Teresia dan satuan tentara lain di Jl. Mangunsarkoro. Waktu itu Jenderal Soeharto tinggal di bundaran Jl. H.A. Salim dan Jl. Cendana masih sepi. Mesjid Sunda Kelapa belum dibangun dan pengunjung Gereja HKBP belum memadati Jl. Jambu. Jalan-jalan di sekitar Gereja Teresia dan Sarinah (yang belum selesai dibangun) sering dilanda banjir besar, sehingga banyak mobil mogok. Menteng – selain bulevar Jl. Imam Bonjol-Diponegoro – merupakan kawasan pemukiman yang tenang. Sangat nyaman duduk di teras di muka rumah pada sore dan malam hari sambil memandangi jalan melalui pagar hijau yang rendah, membaca koran atau menerima tamu. Suasana sepi, kecuali bunyi tik-tok penjual bakso, teriakan ‘Sate!’ dan kencrang-kencring tukang pijat yang lewat. Becak dengan giring-giring membawa orang ke tempat tujuan. Di beberapa kios lama di persimpangan jalan dijual minuman dan kebutuhan pokok rumahtangga. Toko Li baru berubah menjadi Toserba Gelael pertama, dan Lapangan Persidja belum di kelilingi tembok tinggi. Menteng ini hilang …
Sejak tahun 1970-an waktu Petro Dollar mulai mengalir ke kantong pejabat dan kontraktor karbitan Pertamina, rumah-rumah lama mulai dipermak, dibongkar, lalu diganti. Jalan-jalan diperbaiki dan banyak di antaranya dijadikan satu arah. Lalu-lintas dari arah Kuningan dan Salemba melewati kawasan ini. Gedung eprkantoran tinggi di Jl. Thamrin didatangi banyak pegawai dan pengunjung. Semakin ramai! Rumah mewah dibangun – lazimnya tanpa selera. Halaman muka dan belakang diisi bangunan tambahan, sehingga ciri ‘kota taman’ pertama di Indonesia ini semakin rusak. Suhu udara naik, kantor berjamuran, dan warung dibiarkan memadati trotoar, taman serta pojok persimpangan jalan, asal membayar ‘uang keamanan’.
Pada foto dan kisah lama, Jakarta dan terutama Menteng, tampak bersih dan teratur. Namun akhir-akhir ini berjalan kaki dengan aman adalah hal yang mustahil. Terantuk besi di tengah trotoar atau diserempet sepeda motor, yang menyerobot jalur pejalan kaki menjadi hal ‘biasa’. Keliaran cara hidup ini menciptakan pemandangan yang mencemaskan dengan munculnya deretan bangunan asal jadi yang bergaya campuraduk. Sungguh berbeda dengan Jakarta tempo dulu, yang tertata baik dan diisi dengan bangunan bergaya selaras satu sama lain.
Is Menteng lost? Apakah buku ini karya sejarah tentang masa lampau yang sudah lewat dan tinggal kenang-kenangan? Belum! Buku ini ingin memperlihatkan sejarah perkembangan serta karakter kawasan Menteng dan membangkitkan kesadaran serta kepedulian akan wilayah Jakarta yang unik ini, selama belum rusak total. Memang, instansi DKI Jakartalah yang terutama berkewajiban menjaga aset city planning pertama di Ibu Kota kita ini, termasuk bangunan-bangunan wilayah yang bergaya arsitektur khusus ini. Namun demikian, tanpa kepedulian serta keterlibatan warga Menteng the battle is lost. Ada pejabat pemerintah yang peduli, ada fakultas-fakultas yang tertarik pada gaya bangunan khas Menteng, ada warga yang memelihara keaslian rumah mereka dengan segenap hati. Tetapi, ‘dewa’ Jakarta yang bernama duit semakin menyingkirkan peraturan pemerintah, semangat generasi muda, rasa seni dan nostalgia generasi tua. Semoga buku ini memperkuat warga Menteng, yang mempedulikan pelestarian lingkungan hidup, yakni ‘kota taman’ di tengah-tengah Jakarta!


Buku dapat anda pesan langsung di:

Yayasan Cipta Loka Caraka
Jl. Prof. Moh. Yamin 37
Jakarta Pusat 10310
(-2 (021)31924856